KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
261. Yohanes XXIII (1958-1963)
Yohanes lahir di Sotto il Monte, dekat Bergamo pada 25 November 1881, dengan nama Angelius Giuseppe Roncalli. Terpilih menjadi paus pada 28 Oktober 1958. Pemilihannya adalah hasil dari suatu kompromi antara golongan tradisional dan progresif, sebagaimana telah diduga akan terjadi. Tetapi Yohanes tidak mau menjadi apapun kecuali sebagai paus transisi, meletakkan sebuah pembaruan dalam Gereja. Ia turun dari tempat berdiri di mana orang biasanya melihat paus berada dan mendekati mereka untuk melihat secara nyata masalah-masalah dan penderitaan mereka. Ia meninggalkan Vatikan unutk mengunjungi orang sakit dan yang terpenjara karena tidak ada proses hukum yang jelas. Ia akan berhenti dan berbicara dengan masyarakat umum serta para pekerja, dan senang mengatakan bahwa pekerjaan yang dipersembahkan kepada Allah pada dasarnya adalah sebuah doa. Gaya hidupnya yang sederhana dan tidak resmi menimbulkan suasana yang sama sekali baru dalam Gereja.
Pada awal tahun 1959 diambil keputusan historis untuk menyelenggarakan Konsili Vatikan II (Konsili Gereja Katolik Sedunia), dengan tujuan ganda yakni pembaruan ke dalam dan perdamaian dengan dunia luar. Ia mendirikan suatu secretariat khusus untuk persatuan umat Kristen. Sidang pertama konsili berlangsung dari 11 Oktober – 8 Desember 1962. Konsili Vatikan II menuntut supaya dalam perayaan liturgy umat dapat dengan mudah menghayati imannya dan merasakan pertemuannya dengan Allah dalam utusanNya, Yesus Kristus, yang menyelamatkan (misteri Paskah). Dalam perayaan liturgy oleh umat diungkapkan dengan jelas bahwa Kristus hadir dalam umat yang berkumpul atas nama-Nya. Dengan demikian Gereja menjadi nyata dalam arti kelihatan dalam perayaan liturgy; satu umat Allah yang dikuduskan untuk memuji Tuhan. Ia memperbaiki suasana hubungan Soviet – Vatikan, Negara-negara adikuasa yang terlibat konflik yang berpusat di sekitar tembok Berlin dan muncul ancaman nuklir di Kuba. Ia merespon sinyal dari Presiden John F. Kennedy dan Nikita Khruschev dari Soviet agar meredakan ketegangan krisis Kuba tanpa mempermalukan kedua belah pihak. Berkat usahanya ini paus dianugerahi Nobel Perdamaian Internasional dari Eugeio Balzan Foundation. Ia juga berupaya meletakkan dasar intelektual untuk melandasi dialog anta Gereja dan pihak-pihak lain, khususnya paham Marxisme. Landasan intelektual tersebut secara ringkas dirangkum dlam dokumen Gaudium et Spes yang dihasilkan Konsili Vatikan II. Kunjungan yang amat berarti adlah kunjungan kepada paus dari Ratu Elisabeth II pada 5 Mei 1961, dan kunjungan dari yang kemudian diangkat sebagai Uskup Agung Canterbury oada 2 Desember 1960. Di antara yang ditetapkan sebagai orang kudus oleh Paus Yohanes ini adalah Martin de Porres dan Vinsensius Pallotti. Masa kepausannya ditandai dengan ensiklik yang cemerlang seperti Matter et Magistra (Ibu dan Guru) dan Pacem in Terris (Damai di Dunia).
Nama Paus Yohanes XXIII termasyur dengan suksesnya Konsili Vatikan II yang menjawab segala kebutuhan baik secara religius, kebudayaan dan masalah yang ada pada jaman itu. Ia tidak menyaksikan hasil konsili yang ia prakarsai itu karena ia keburu meninggal pada 3 Juni 1963 akibat penyakit tumor yang ia derita saat konsili berlangsung. Semua berduka cita. Setiap orang masih mengenang beliua sebagai “Paus yang baik”.
|